Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
GUANGDONG, KOMPAS.com – Konflik Timur Tengah mulai berdampak nyata pada sektor manufaktur global. Para pemilik pabrik dan pedagang di China memperingatkan bahwa harga barang-barang elektronik terancam melonjak jika perang Iran terus berlanjut. Pusat manufaktur dunia tersebut kini tertatih menghadapi melambungnya biaya produksi, sebagaimana dilansir AFP, Rabu (6/5/2026). Perang yang masih berkecamuk di Iran, ditambah penutupan Selat Hormuz, telah mencekik pasokan minyak Asia. Baca juga: Membaca Selat Hormuz, Menyadari Selat Kita Kondisi ini menghambat produksi plastik, yang merupakan turunan minyak bumi, di seluruh kawasan. Meskipun China relatif terlindungi dari kelangkaan bahan bakar berkat cadangan minyak dan energi terbarukan, pabrik-pabrik tidak bisa menghindar dari bengkaknya harga bahan baku yang luar biasa. Momentum Gelar Ganda Menyelimuti Arsenal Artikel Kompas.id Bryant Chen, manajer pabrik penyedot debu RIMOO di Foshan, Provinsi Guangdong, mengungkapkan dampak langsung yang dirasakan perusahaannya. “Pada dasarnya, kami merugi di semua pesanan kami,” kata Chen kepada AFP. Baca juga: Trump Tangguhkan Operasi Pengawalan Kapal Selat Hormuz, Sebut Negosiasi Lancar Dia menjelaskan bahwa harga plastik telah melonjak sekitar 50 persen sejak perang Iran meletus pada 28 Februari yang dimulai dari serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Hal ini sangat memengaruhi biaya produksi barang-barang yang mereka buat, mulai dari plastik untuk bodi, tembaga untuk motor penyedot debu, hingga bahan baku kabel listrik. “Biasanya saat ini kami memasuki musim puncak, tetapi dibandingkan periode yang sama sebelumnya, data pengiriman dan produksi tidak terlalu optimis,” ujar pria berusia 42 tahun tersebut. Kondisi serupa terjadi di Zhangmutou, sebuah pusat penyimpanan plastik yang berjarak dua jam dari Foshan. Baca juga: Iran Umumkan Mekanisme Baru Transit di Selat Hormuz, Kapal Tak Bisa Sembarang Lewat Para pedagang di sana menyebut fluktuasi harga saat ini adalah yang terburuk dalam beberapa dekade terakhir. “Belum pernah segila ini,” tutur Li Dong (46), seorang pedagang yang telah berkecimpung di industri ini selama 20 tahun. Menurut Li, harga pelet plastik, bahan baku untuk casing ponsel hingga baterai kendaraan listrik, melonjak liar pada Maret lalu. Hal ini memicu kepanikan massal di mana pabrik-pabrik berebut stok, hingga menyebabkan kemacetan total di jalan-jalan kota kecil tersebut.
Membership: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

